Mengapa Menulis

oleh: Rachmat Septiadi Malik

“Writing is the painting of the voice.”
— Voltaire

Setiap kita adalah penulis. Kurang lebih isu itulah yang terlintas di benak saya saat berselancar di beranda facebook pagi ini. Tanpa kita sadari sehari-hari kita menulis dan meluapkan opini dan pikiran di ruang media sosial. Mengunggah status facebook, membuat sebuah tweet, atau mungkin mengisi caption foto instagram, telah menjadi rutinitas kita di era digital ini.

Secara perlahan media sosial telah membantu mengasah kemampuan beberapa di antara kita dalam menulis. Hal ini terlihat dari bermunculannya utas-utas (thread) atau mungkin status-status viral yang menarik untuk dibaca dan silih berganti mewarnai ruang media sosial kita. Beragam tema yang disajikan, mulai dari keuangan, horror hingga percintaan. Sumbernya pun bisa dari siapa saja, bukan cuma dari kalangan terdidik di bangku sekolah. Sebuah status atau utas viral dapat lahir dari seorang influencer, anak remaja atau mungkin seorang tua yang sekadar ingin berbagi pengalaman dan cerita. Memang, seyogyanya menulis tidak lain hanyalah proses berbicara melalui huruf atau tulisan. Menurut Voltaire, “Writing is the painting of the voice.” Baginya, menulis ibarat melukiskan suara.

Di sisi lain, mungkin benar bila ada yang berpendapat bahwa sebuah tweet atau status yang tertulis di facebook bukanlah sebuah literatur dan belum termasuk dalam gerakan literasi. Namun, walaupun postingan pada media sosial hanya bersifat fragmen pikiran, dan terkadang kurang konteks, minim data atau fakta, setidaknya ia sudah dapat menjadi corong opini dan ide dari si pemilik akun.

Menurut saya, kemampuan menyampaikan ide dan opini secara tertulis adalah keahlian yang esensial. Walaupun zaman sudah sangat digital, namun tulisan akan tetap menjadi media yang paling liquid dalam menyampaikan ide. Terlebih lagi, ruang publik untuk beropini lewat tulisan lebih luas dibandingkan panggung dan mimbar yang tersedia untuk berpidato atau orasi. Memang benar, bahwa saat ini sudah ada media digital yang bisa merekam video pembicaraan kita, seperti podcast-podcast  youtube yang sedang tren, namun pada banyak kondisi, informasi akan lebih mudah dicerna dalam bentuk tulisan daripada yang didapat dari proses mendengarkan atau menyaksikan video secara online.

Sejenak berkiblat ke Barat, dalam sistem pendidikan mereka, menulis essay adalah keharusan bagi setiap siswa di setiap jenjang. Menulis menjadi rutinitas mereka mulai dari level sekolah dasar hingga tingkat atas. Dalam film-film Hollywood dengan latar negara barat, kita sering kali menyaksikan adegan seorang guru memberikan tugas essay kepada seluruh siswa atau scene ketika pemeran utama sedang berjuang meyelesaikan tugas essaynya yang mendekati deadline. Di lain kesempatan,  adakalanya kita menyaksikan adegan sebuah kelas tengah membedah buku atau karya sastra secara bersama-sama. Halaman demi halaman, kata demi kata. Poin pentingnya, mereka telah menganggap bahwa kemampuan literasi, terutama menulis, sebagai sebuah skill-set yang akan sangat berguna bagi generasi mudanya.

Terkait essay, dalam salah satu halamannya, situs Curtin University menyebutkan beberapa manfaat dari menulis essay bagi siswa. Pertama, menulis essay dapat merangsang kemampuan berpikir kritis. Menulis essay dapat dijadikan media untuk menganalisis sebuah topik agar didapat  sebuah kesimpulan. Kedua, menulis essay dapat membantu siswa dalam memahami sebuah materi karena dalam essay akan diejawantahkan argumen,  analisis, dan contoh-contoh spesifik dari materi yang tengah dibahas.  Ketiga, kegiatan menulis akan membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan menyusun argumen dan kejelasan dalam berpikir.

Adapun manfaat yang terpenting, menurut saya kebiasaan menulis akan menjadi modal besar bagi siswa dalam menghadapi jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya. Hal ini sangat relevan mengingat seorang profesor, doktor dan master tidak dianugerahi gelar berdasarkan ceramah indah mereka. Peraih gelar keilmuan tersebut mendapatkan gelarnya berdasarkan publikasi tulisan mereka dalam bentuk hasil riset, desertasi dan tesis yang disusunnya.

Dalam sebuah ungkapan, Plato menyebutkan bahwa “Writing is geometry of the soul”. Menulis mencerminkan bentuk jiwa seseorang. Lebih dalam lagi diartikan bahwa menulis dapat menjadi media sesorang untuk menyelami batin dan jiwanya. Contoh unik dan sederhana adalah ketika facebook mengingatkan kita atas unggahan status yang pernah kita buat lima atau sepuluh tahun yang lalu. Bisa jadi kita akan tersenyum-senyum sendiri ketika membaca kembali tulisan-tulisan tersebut. Seketika kita pun tersadar betapa kita pernah sedemikian picisan, alay, atau mungkin naif dalam hidup ini. Namun, demikianlah tulisan tersebut secara gamblang menunjukkan kondisi kebatinan dan jiwa kita pada masa-masa itu.

Sebuah karya tulis juga dapat menjadikan seseorang abadi dalam sejarah manusia dan dunia. Semua memori tentang sosok penulis boleh jadi akan sirna dari benak generasi penerus, tetapi tidak dengan ide-ide yang telah dia tuangkan di atas kertas putih. Sebut saja beberapa buku bersejarah yang mengubah dunia dan masih terus diperbincangkan, bahkan hingga ratusan tahun setelah kematian penulisnya. Tak hanya diperbincangkan, beberapa karya tulis yang sangat fundamental bahkan dijadikan dasar ideologi beberapa negara atau menjadi landasan berpikir ribuan ilmuwan modern. Di antaranya Origin of Species yang diterbitkan tahun 1859 oleh Charles Darwin dan sampai sekarang masih menjadi landasan konsep ilmuwan-ilmuwan terkemuka yang mendukung teori evolusi. Ada pula Comunist Manifesto tahun 1848 dan Das Kapital tahun 1867 yang ditulis oleh Karl Marx dan rekan. Tulisan ini menjadi salah satu dasar berdirinya negara sosialis dan landasan dari sosio-ekonomi, sebuah teori ekonomi berbasis kelas sosial ala marxisme. Demikian pula dengan The Wealth of Nation karya Adam Smith pada tahun 1776 yang menjadi salah satu landasan ekonomi modern. Karya fenomenal yang mengusung teori ekonomi berdasar pada pasar bebas ini  bahkan masih dibahas di bangku sekolah-sekolah dan dipraktikkan hampir oleh seluruh bangsa di dunia hingga hari ini.

Lalu, bagaimana dengan kualitas tulisan?  Adakah tulisan yang baik atau buruk?  Terlepas dari segala keuntungan menulis dan anggapan di awal bahwa semua orang adalah penulis, sejujurnya menghasilkan tulisan yang baik adalah hal yang tidak mudah. Susah-susah gampang, kata orang. Menurut saya, tulisan yang baik adalah luapan pikiran bermanfaat dan berbobot yang dapat diterima maksudnya oleh pembaca dan di saat yang sama juga bisa membuat pembaca terinformasi, terinspirasi, atau minimal terhibur.

Ada yang bilang menghasilkan tulisan yang baik itu perkara bakat dan seni, bukan sekadar keterampilan. Namun, saya pribadi lebih memandang menulis sebagai sebuah keahlian. Saya memilih untuk  mengibaratkan kemampuan menulis layaknya kemampuan berenang. Seseorang yang memiliki keahlian berenang tidak serta-merta mampu berenang satu kilometer tanpa pernah berlatih dengan jarak lebih pendek sebelumnya atau minimal pernah berlatih untuk sekadar mengapung di atas air.

Begitu pula dengan  menulis. Seorang penulis pemula tidak tiba-tiba dapat membuat tulisan yang baik dalam dua ribu kata pada percobaan pertama. Mungkin diawali dengan satu atau dua paragraf di awal masa mencoba menulis. Itu pun  dengan  potensi  belepotan diksi dan gagasan di sana-sini.  Namun,  kondisi ini adalah hal yang wajar, sama halnya dengan riak-riak air yang dihasilkan oleh seseorang yang baru belajar berenang. Selanjutnya, sebuah keahlian wajib dijaga dan ditingkatkan kualitasnya. Untuk menjaga dan meningkatkannya, kita harus rajin berlatih dan senantiasa mengasah kemampuan tersebut dalam berbagai kesempatan. Sudah barang tentu disertai keyakinan bahwa memiliki keahlian berenang pasti akan lebih bermanfaat dibanding orang yang tidak mampu berenang. Begitu pula dengan menulis.

So, selamat memulai.  

—ooOoo—

Ditulis oleh:
Rachmat Septiadi Malik
Pelaksana pada Subseksi Hanggar Pabean dan Cukai XX
KPPBC TMP B Makassar

Jam Delapan Pagi

oleh: Arfan Maulana Nurdin

A life that is not tested is a life that has no value.
– Socrates.

Mungkin kehidupan sesungguhnya tidak sesederhana seperti kata-kata filosofi orang terkenal, apalagi hanya sekadar obrolan-obrolan di warung kopi pinggir jalan. Kehidupan tak mudah dipahami dan hampir tak mungkin dapat diprediksi. Tepat tidaknya seseorang mengambil sebuah keputusan atau bahkan hanya karena faktor keberuntungan dapat mengubah lajur dari satu titik ke titik yang lain. Suatu hal yang dapat diantisipasi bagi sebagian orang dan suatu hal yang rapuh bagi yang tidak memiliki perencanaan yang baik.

Benar saja, pada tahun 2020 pandemi Covid-19 melanda. Hiruk-pikuk keramaian yang biasanya merupakan hal yang biasa terjadi di kota-kota besar perlahan memudar. Perekonomian dunia mulai turun. Jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 tiap hari bertambah. Protokol kesehatan diberlakukan di seluruh penjuru dunia. Banyak yang berpikir tentang apa yang harus dilakukan, kapan ini berakhir dan bagaimana dengan kehidupan di masa yang akan datang.

Perlu kita ingat bahwa pandemi bukan baru saja terjadi kali ini. Berkaca dari sejarah, manusia sering kali berhasil melewati sebuah bencana besar. Adaptasi adalah kuncinya. Adaptasi merupakan kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan untuk bertahan hidup. Jadi, apabila tidak ada tekanan, bagaimana kita sebagai manusia bisa berkembang untuk menjadi lebih baik?

Seperti yang kita ketahui, dalam waktu yang singkat terobosan-terobosan baru mulai bermunculan. Era digital dan kemudahan akses teknologi tak membatasi orang-orang untuk berkreasi. Gagasan-gagasan baru muncul dalam bentuk aplikasi. Sebuah dorongan kepada seseorang agar membuat perubahan untuk menjadi lebih baik.

Ketika dunia berubah, jangan hanya menunggu. Beradaptasi dengan kehadiran sistem baru dan menemukan potensi yang dapat bermanfaat bagi orang lain adalah suatu keharusan. Bisa jadi bagi sebagian yang telah kehilangan semangat, hal ini akan terasa berat. Namun bagi yang lain, ini masih “Jam Delapan Pagi“.     

—oo000oo—

Ditulis oleh:
Arfan Maulana Nurdin
Pelaksana pada Seksi Kepatuhan Internal
KPPBC TMP B Makassar

Eksportir Muda dari Kampus

Oleh: Efie Kurniawan Thaha

Ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang disebut sebagai daerah pabean. Secara yuridis, barang dianggap telah diekspor jika telah diangkut ke sarana pengangkut yang akan berangkat keluar negeri[1]. Defenisi yuridis ini penting untuk memberikan kepastian dalam proses pelayanan dan pengawasan dalam kegiatan ekspor. Berbanding terbalik dengan ekssor, kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean disebut dengan impor.

Ekspor merupakan bagian penting dalam proses perdagangan antar negara dan dapat secara signifikan menggerakkan perekonomian serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Data devisa dari kegiatan ekspor dan impor digunakan untuk menghitung neraca perdagangan suatu negara. Neraca positif artinya terjadi surplus perdagangan jika nilai ekspor lebih tinggi dari impor, dan sebaliknya untuk neraca negatif[2].

Potensi pasar ekspor sangat besar jika dilihat dari jumlah penduduk yang berpotensi menjadi pembeli. Jika dilihat dari data statistik, 97% calon pembeli berada di luar negeri. Tiongkok merupakan negara dengan potensi pembeli terbesar, yakni sejumlah 1,4 Milyar penduduk atau 18% dari total potensi pembeli di seluruh dunia[3]. Pada urutan selanjutnya diisi oleh India dan Amerika Serikat, masing-masing 17% dan 4,3%.

Sejak lama, Indonesia telah menjadi produsen berbagai kebutuhan dunia, salah satunya adalah produk pertambangan. Kebutuhan mineral dunia banyak ditambang dari berbagai daerah, antara lain emas dari Papua dan nikel dari Sulawesi. Namun, hasil pertambangan ini lebih banyak diekspor dalam bentuk bahan baku dengan pengolahan yang sederhana. Kebijakan terkini pemerintah memang telah berusaha mendorong agar terjadi peningkatan nilai ekspor pertambangan dengan lebih dahulu dilakukan proses pemurnian (smelting).

Selain hasil pertambangan, Indonesia juga dikenal sebagai sumber hasil alam berupa hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan kelautan. Bahkan hasil alam, khususnya rempah-rempah, telah menjadi incaran berbagai negara sejak ratusan tahun yang lalu. Saat ini berbagai komoditas perkebunan, seperti coklat dan kopi, juga ikut menambah daftar panjang produk ekpsor hasil alam Indonesia. Lebih lanjut, hasil perikanan dan kelautan juga tak kalah dalam jumlah dan jenis, antara lain ikan, lobster, teripang dan berbagai jenis rumput laut. Namun, sama halnya dengan hasil pertambangan, produk-produk ini masih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah dengan pengolahan minimal.

Untuk dapat menghasilkan devisa yang lebih besar dan memperbaiki neraca perdagangan, Indonesia harus mampu meningkatkan kegiatan ekspor. Peningkatan dapat dilakukan melalui peningkatan jumlah dan/atau nilai barang yang diekspor. Peningkatan jumlah dilakukan dengan menambah volume kegiatan ekspor, sedangkan peningkatan nilai barang dilakukan melalui proses pengolahan sehingga menjadi setengah jadi atau barang jadi yang siap konsumsi.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh instansi pemerintahan terkait dan pihak swasta untuk meningkatkan kegiatan ekspor, antara lain pemberian fasilitas fiskal, pelatihan ekspor, pameran perdagangan internasional, dan berbagai kegiatan lainnya. Untuk mendukung upaya ini, salah satu hal yang dapat dicoba adalah melibatkan generasi muda. Hal ini dimungkinkan karena pergerakan pemuda dapat berpengaruh secara luas dari aspek sosial hingga ekonomi. [4]

Generasi muda dapat dijadikan sebagai motor penggerak kegiatan ekonomi, khususnya kegiatan ekspor di tengah masyarakat. Potensi finasial dari kegiatan ini dijadikan motivasi tambahan karena sangat menguntungkan, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat. Kutipan umum yang sering kita dengar atau baca di berbagai naskah tentang generasi muda adalah kutipan Bung Karno, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”

Generasi muda dengan range usia antara 16-30 tahun berjumlah 61,8 juta orang, atau 24,5 % dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta orang (BPS, 2014). Secara kuantitas angka 24,5 % ini cukuplah besar. Ditambah lagi pada periode tahun 2020 sampai 2035, Indonesia akan menikmati suatu era langka yang disebut dengan Bonus Demografi. Pada kurun waktu ini, jumlah usia produktif Indonesia diproyeksikan berada pada grafik tertinggi dalam sejarah bangsa ini, yaitu mencapai 64 % dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 297 juta jiwa [5].

Generasi muda yang dapat didorong dalam peningkatan kegiatan ekspor adalah mereka yang sedang menempuh pendidikan tinggi di berbagai perguruan tinggi. Selain karena kemudahan dalam proses menjalankan program, generasi ini memiliki CLBK yang dapat menjadi modal besar dalam mendorong kegiatan ekspor, apapun jurusan atau bidang keilmuan yang saat ini ditekuni.  CLBK adalah akronim dari creative, leader, backup plan, kind.

1. Creative

Generasi muda yang saat ini dikenal sebagai generasi milenial memiliki potensi untuk memunculkan ide-ide kreatif dan dapat dapat berpikir out of the box. Mereka mampu memunculkan ide yang yang belum terpikirkan oleh generasi sebelumnya. Hal ini dapat terlihat dari munculnya berbagai bidang usaha baru dengan unsur kreatif di dalamnya. Contohnya Brodo Footwear atau Brodo yang didirikan oleh Yukka Harlanda dan Putera Dwi Karunia[6]. Mereka memproduksi sepatu kulit yang sudah umum menjadi hasil industri, namun yang berbeda adalah cara pemasaran yang dilakukan.

Generasi muda kreatif lainnya adalah Carline Darjanto melalui brand produk fashion bernama Cotton Ink, Carline. Ia sukses menjadi anak muda yang dinobatkan Forbes sebagai orang sukses di bawah umur 30 tahun, bidang Retail & E-Commerce di Asia. Penghargaan yang diberikan Forbes tersebut adalah 30 Under 30 Asia”, merupakan penghargaan bagi mereka yang sukses pada bidang Art, Healthcare & Science, dan Marketing & Advertising di kawasan Asia[7].

Potensi kreatif yang dimiliki oleh generasi muda dapat juga dimaksimalkan untuk meningkatkan kegiatan ekspor, khususnya dari segi peningkatan nilai barang. Melalui ide kreatif mereka, komoditi yang selama ini diekspor dalam bentuk bahan baku diharapkan mampu diolah menjadi produk yang lebih bernilai secara ekonomi.

2. Leader

Generasi muda saat ini adalah pemimpin di masa depan[8] sehingga mereka harus disiapkan untuk berpikir secara global. Pengetahuan tentang perdagangan internasional, khusunya kegiatan ekspor akan membuka wawasan tentang luasnya potensi pasar di luar negeri yang dapat digunakan sebesar-besarnya untuk membangun dan mensejahterakan masyarakat. Selain itu, pengetahuan ini juga akan mendorong mereka menyiapkan diri agar dapat bersaing di masa yang akan datang.

3. Backup Plan

Generasi muda tentunya harus memiliki perencanaan dan target tertentu dalam kehidupannya, khususnya dalam sudut pandang ekonomi. Sebagian telah berencana menjadi wirausahawan, sementara yang lain berharap memiliki kehidupan yang sejalan dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Pencapaian target-target tersebut dapat menjadi salah satu tolak ukur dari keberhasilan dari proses yang selama ini dijalani. Namun, terkadang pada beberapa kondisi dalam proses yang dijalani, terjadi perubahan dan penyesuaian.

Bagi yang bertujuan menjadi wirausahawan, maka kegiatan ekspor bisa menjadi target utama. Wirausaha didefinisikan sebagai kegiatan usaha atau suatu bisnis mandiri yang setiap sumber daya dan kegiatannya dibebankan kepada pelaku usaha atau wirausahawan, terutama dalam hal membuat produk baru, menentukan bagaimana cara produksi baru, maupun menyusun suatu operasi bisnis dan pemasaran produk serta mengatur permodalan usaha[9].

Bagi yang tidak bertujuan menjadi wirausahawan maka kegiatan ekspor bisa menjadi rencana cadangan setelah mengetahui proses dan keuntungan-keuntungan yang bisa didapatkan. Pengetahuan yang diperlukan cukup dalam bentuk pengetahuan dasar yang kemudian dapat dikembangkan di kemudian hari. Selain untuk keperluan diri sendiri, pengetahuan tentang kegiatan ekspor juga dapat digunakan untuk membantu orang lain.

4. Kind

Generasi muda saat ini berada di persimpangan dalam hubungan antar manusia dan teknologi. Mereka terhubung dengan masyarakat secara langsung dan di sisi lain sangat erat terhubung dengan dunia maya melalui internet. Saat ini bahkan terdapat profesi khusus dalam hal konektivitas dunia nyata dan dunia maya yang disebut influencer. Mereka dapat mempengaruhi masyarakat dengan tayangan-tayangan yang ditampilkan melalui media sosial.

Kaum muda dan internet saling mempengaruhi dalam produksi dan konsumsi[10]. Melalui postingan di media sosial, mereka dapat mengubah hidup orang lain. Beberapa penjual makanan yang sepi pembeli bisa mendadak sangat ramai hanya karena sebuah postingan yang viral. Bahkan terdapat platform khusus seperti kitabisa.com yang sengaja dibuat untuk mengajak orang lain membantu sesama.

Keterlibatan pemuda pada pergerakan ekonomi sebenarnya sudah terjadi sebelum era millenial. Pada awal tahun 1995, brand Hush Puppies yang hampir mati pada tahun sebelumnya mendadak menjadi sangat terkenal dan digunakan banyak desainer Amerika. Hal ini tidak lepas dari peran pemuda di East Village dn Soho, Manhattan, Amerika Serikat. Mereka menggunakan brand tersebut karena keinginan tampil berbeda dan itu mempengaruhi masyarakat untuk menggunakan brand yang sama[11].

Pada era industri 4.0 saat ini, pemuda juga memiliki peran besar dalam pergerakan ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perusahaan berbasis pada internet marketing. Beberapa di antara mereka bahkan menjadi perusahaan dengan valuasi yang sangat besar seperti gojek, tokopedia, bukalapak, dll. Persamaan di antara semua perusahaan tersebut adalah model bisnis yang tidak dikenal oleh generasi sebelumnya.

Jika dihubungkan dengan kegiatan ekspor, generasi muda khususnya mahasiswa yang setiap waktu harus terhubung dengan internet untuk mengerjakan tugas ataupun berselancar di media sosial, bisa menjadi katalisator yang sangat efektif dalam kampanye peningkatan ekspor. Mereka bisa secara langsung memasarkan produk masyarakat yang ada di sekitarnya atau bahkan menciptakan produk-produknya sendiri. Mereka dapat memasarkan dan terhubung dengan pembeli di luar negeri tanpa harus bertemu secara langsung.

Makassar, 30 August 2020

—oo000oo—


[1] Undang-Undang No 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Undang-Undang No 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan
[2] https://ekonomi.bisnis.com/read/20130809/9/155728/kamus-ekonomi-apa-arti-neraca-perdagangan
[3] https://www.worldometers.info/world-population/population-by-country/
[4] Akbar, Idil. Demokrasi dan Gerakan Sosial (Bagaimana Gerakan Mahasiswa terhadap Dinamika Perubahan Sosial). Departemen Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran
[5] https://www.kemenparekraf.go.id/post/narasi-tunggal-pemuda-indonesia-menatap-dunia
[6] https://kumparan.com/kumparanbisnis/sepatu-brodo-lahir-dari-modal-nekat-dua-lulusan-teknik-sipil-itb-27431110790546207/full
[7] https://www.idntimes.com/life/inspiration/wahyu-putra-utama/paraperempuanhebat-carline-darjanto-wanita-muda-yang-sukses-membangun-cotton-ink-c1c2/1
[8] Pepatah arab “Syubbanul yaom, rijalul ghad”
[9] https://www.jurnal.id/id/blog/apa-itu-wirausaha-bagaimana-cara-menjadi-wirausaha-sukses/
[10] Widhyharto, Derajad S. 2014.Kebangkitan Kaum Muda dan Media Baru. Jurnal Studi Pemuda • Vol. 3, No. 2 September
[11] Gladwell, Malcom.2000. The Tipping Point. 2000. New York; Back Bay Books


Ditulis oleh
Efie Kurniawan Thaha
Kasubsi Hanggar Pabean dan Cukai II
KPPBC TMP B Makassar

Manajemen Risiko Kepabeanan dan Paradoks Sifat Allah SWT

Oleh: Muhammad Shafiullah

Institusi kita dituntut untuk menyeimbangkan pelayanan dan pengawasan. Kita dituntut ikut serta dalam kelancaran arus perpindahan barang dan dituntut pula memberikan jaminan terpenuhinya regulasi kepabeanan serta aturan titipan dari pihak eksternal lainnya.

Sekilas pengawasan dan pelayanan adalah dua sisi mata uang. Jika ingin mengambil satu sisi maka sisi yang lain harus dikorbankan. Pengawasan dalam rangka terpenuhinya regulasi adalah bentuk hambatan terhadap kelancaran arus barang. Konsep Manajemen Risiko (MR) yang telah diimplementasikan oleh DJBC membuat dua hal, pengawasan dan pelayanan, yang terlihat bertolak belakang menjadi suatu hal yang saling membutuhkan.

Kunci sukses menyatukan pengawasan dan pelayanan laiknya yin-yang[1] adalah dengan menyadari bahwa perilaku pengguna jasa terhadap aturan tidaklah sama. Kita membagi perilaku pengguna jasa menjadi empat:

  1. Patuh dan tahu aturan (Low Risk).
  2. Melanggar karena tidak tahu aturan (Medium Risk).
  3. Melanggar karena ada kesempatan (High Risk).
  4. Tidak berniat untuk patuh (Very High Risk).

Agar tujuan tercapai, setiap perilaku mesti direspon dengan cara yang berbeda. Sebagai gambaran umum, pengguna jasa yang berperilaku patuh seyogyanya diberi fasilitas dan penyederhanaan prosedur. Pengguna jasa yang tidak tahu atau tidak paham diberi sosialisasi secara intensif. Sementara pengguna jasa yang berperilaku tidak patuh diawasi dengan ketat.

Tujuan dari penerapan respon berbeda (pengawasan dan pelayanan) tersebut adalah mengarahkan populasi perilaku pengguna jasa yang tersegmentasi menuju perilaku yang patuh dan tahu aturan. Sebagaimana tertuang dalam Ringkasan Manajemen Risiko WCO: The key in relation  to risk-based compliance management is to actively “steer” the client population towards the low-risk category.[2]

Di dalam agama Islam Allah SWT digambarkan memiliki sifat yang sekilas seperti dua sisi mata uang. Dalam Asmaul Husna, sering kita temukan bahwa Allah memiliki wujud yang paradoksal[3]. Maha Melapangkan dan juga Maha Menyempitkan, Maha Meninggikan dan juga Maha Merendahkan, Maha Memuliakan dan juga Maha Menghinakan serta Maha Mengawasi dan juga Maha Mengasihi. Sementara pada Surah Al Fatihah, surat pertama pada kitab suci Al Quran, tergambar bahwa Allah SWT itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, namun juga memiliki hari pembalasan.

Dengan menggunakan pendekatan Manajemen Risiko di atas, sifat paradoks Allah SWT memberikan kesan yang sama saat memahami konsep pengawasan dan pelayanan kepabeanan. Kesan tersebut semakin kuat bila membaca surah selanjutnya, Al Baqarah. Di ayat-ayat awal surah tersebut tersirat bahwa Allah SWT menggolongkan hambanya menjadi orang yang beriman, kafir dan munafik. Agama atau sistem moral apapun tentu menginginkan orang yang diaturnya berperilaku patuh.Untuk mewujudkan hal tersebut, sistem moral idealnya tidak membiarkan punishment berdiri sendiri tanpa rewards, begitu pula sebaliknya.

Menurut pendapat saya, mengetahui dan memahami bahwa konsep Manajemen Risiko pada DJBC ternyata sejalan dengan konsep agama atau sistem moral pada umumnya, sudah sepatutnya hal ini menjadi dorongan bagi pegawai untuk bekerja lebih baik, berusaha mewujudkan konsep tersebut dalam tataran teknis operasional di tempat kerja masing-masing serta menyadari bahwa unit pengawasan tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa keberadaan unit pelayanan dan unit pendukung lainnya. Menjalankan konsep yang sesuai dengan Sang Khalik sejatinya adalah manifestasi peran kita sebagai khalifah di muka bumi.

Bagaimana menurut Anda?

[1] konsep dalam filosofi Tionghoa yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain.
[2] Risk Management Compendium Volume 1 oleh WCO.
[3] https://islami.co/sering-baca-asmaul-husna-ini-maknanya/

—oo000oo—

Ditulis oleh Muhammad Shafiullah,
Pelaksana pada Seksi Intelijen
Kantor Wilayah DJBC Sulawesi Bagian Selatan